Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 48

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 48by adminon.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 48 Pendekar Naga Mas – Part 48 Lok-yang merupakan salah satu dari enam bekas kota raja yang tersohor dalam sejarah Tionggoan. Kota Lok-yang menjadi penting artinya karena letaknya yang strategis dan persis berada di pusat kekuasaan militer. Hari ini di depan sebuah bangunan mewah di sebelah barat kota Lokyang datang sebuah kereta kuda, kalau dilihat dari […]

multixnxx-young pregnant sluts -12multixnxx-young pregnant sluts -0  multixnxx-young pregnant sluts -16Pendekar Naga Mas – Part 48

Lok-yang merupakan salah satu dari enam bekas kota raja yang tersohor dalam sejarah Tionggoan.
Kota Lok-yang menjadi penting artinya karena letaknya yang strategis dan persis berada di pusat kekuasaan militer.
Hari ini di depan sebuah bangunan mewah di sebelah barat kota Lokyang datang sebuah kereta kuda, kalau dilihat dari debu yang mengotori seluruh badan kereta, bisa diduga kendaraan itu baru saja menempuh perjalanan jauh.

Yang muncul tak lain adalah Cau-ji dan tiga bersaudara keluarga Cu.
Semenjak melancarkan serangan waktu berada di rumah penginapan malam itu, pihak Jit-Seng-kau tidak mengirim anak buahnya lagi untuk melakukan sergapan, karena itulah mereka dapat tiba di rumah dengan lancar.

Cu Bi-lian yang menyaru sebagai kusir kereta segera menggedor pintu besi tiga kali dan pintu pun perlahan-lahan terbuka lebar.
Empat lelaki setengah umur yang berdandan Bu-su segera menjura dalam-dalam seraya berseru, “Menjumpai nona!”

“Tak usah banyak adat!” tukas Cu Bi-ih sambil menyingkap tirai kereta dan berjalan turun.
Baru saja Cu Bi-hoa melompat turun dari kereta, seorang kakek berwajah bersih dan seorang nyonya setengah umur bertubuh gesit telah muncul di samping kereta dan memberi hormat kepada kedua gadis itu.

“Gara-gara di tengah jalan ada sedikit masalah hingga kami pulang telambat, di rumah tak ada masalah bukan?” tanya Cu Bi-ih.
“Tak ada urusan,” jawab nyonya setengah umur itu dengan hormat, “eeei, mana nona kedua?”
Cu Bi-lian yang selama ini masih duduk di atas kereta segera tertawa terkekeh-kekeh, serunya,
“Chin-congkoan, aku berada di sini!”

“Ah nona, ternyata ilmu menyaru mukamu makin hari makin hebat,” puji wanita setengah umur itu tercengang, “coba lihat, kau adalah putri ningrat, masa melakukan perbuatan rendah semacam itu?”

“Karena di dalam kereta ada tamu agung!” jawab Cu Bi-lian sambil tertawa misterius.
Dengan pandangan terkejut bercampur keheranan serentak sinar mata semua orang dialihkan ke dalam kereta itu, mereka ingin tahu tokoh manusia seperti apakah yang bisa membuat Cu Bi Lian yang selama ini angkuh dan enggan tunduk kepada siapa pun rela menjadi kusir keretanya.

“Tidak berani!” sahut Cau-ji sambil melompat turun dari dalam kereta.
Semua orang segera merasakan pandangan matanya jadi terang, tak tahan diam-diam soraknya, “Wow, pemuda yang amat tampan!”

Sementara itu Cu Bi-ih telah berseru, “Kongcu, mari kita berbincang di dalam saja!”
Sambil tersenyum Cau-ji manggut-manggut kepada semua orang, kemudian bersama Cu Bi-ih berjalan masuk ke dalam pintu gerbang.

Begitu Cu Bi-lian melompat turun dari tempat duduk kusir, seorang lelaki kekar segera melompat naik menggantikan posisinya dan membawa kereta itu menuju ke pintu samping.

Pemandangan di dalam gedung sungguh indah, selain kebunnya luas, aneka bunga tumbuh dengan harumnya.
Setelah masuk ke ruang dalam dan mengambil tempat duduk, Cu Bi-lian baru berkata sambil tersenyum, “Kongcu, pernah mendengar tentang Thian-te-sian-lu (sejoli dewa langit dan bumi)?”

Cau-ji melirik sekejap ke arah kakek dan wanita cantik itu, kemudian sambil bangkit berdiri, ujarnya dengan hormat, “Apakah Cianpwe berdua adalah Leng-cianpwe dan Chin-cianpwe?”

Kakek dan nyonya cantik itu serentak bangkit berdiri sambil menyahut, “Aku adalah Leng Bang,
sedang dia adalah istriku, Chin Tong, memberi hormat kepada Kongcu!”

Habis berkata mereka segera memberi hormat.
Cepat Cau-ji berkelit ke samping sambil katanya gugup, “Wanpwe adalah Ong Bu-cau dari kota Kimleng, ayahku Ong lt-huan!”

Mendengar nama itu, Leng Bang nampak kegirangan, seninya cepat, “Oh, rupanya Kongcu adalah keturunan Ong Sam-kongcu, tak heran nona kedua bersedia jadi kusirmu, sungguh beruntung pada hari ini aku Leng Bang bisa berjumpa dengan Kongcu!”

Cu Bi-lian menggeleng kepala, katanya, “Leng tua, kau keliru! Biarpun keluarga Ong-kongcu ternama di Seantero jagad, namun belum cukup untuk membuatku menjadi kusir bagi keretanya, pernahkah kau melihat aku menjadi kusir untuk kereta ayahku?”

Dari pembicaraannya itu, bisa disimpulkan kalau asal-usul ayahnya pasti luar biasa.
“Maaf hamba salah bicara, maaf hamba salah bicara!” buru-buru Leng Bang minta maaf.
Kembali Cu Bi-lian tertawa. “Leng tua, aku tidak bermaksud menyalahkan dirimu, karena kau tidak tahu Ong-kongcu telah menyelamatkan nyawa kami tiga bersaudara!”

Secara ringkas dia pun mengisahkan pengalamannya.
Mendengar itu Leng Bang berdua nampak sangat terharu, sinar mata mereka berkilat.
Sesaat kemudian terdengar Leng Bang berkata lagi, “Tampaknya Si Kiau-kiau sudah makan nyali beruang, berani amat turun tangan terhadap anggota keluarga Cu. Hm, tampaknya Jit-Seng-kau memang sudah tak ingin menancapkan kaki lagi di dunia persilatan.”

Begitu mendengar kata “keluarga Cu”, satu ingatan segera melintas dalam benak Cau-ji, pikirnya, “Bukankah Baginda saat ini dari keluarga Cu? Kalau didengar dari caranya bicara, jangan-jangan mereka adalah putri kaisar?”

Tanpa terasa dia pun berpaling ke arah ketiga gadis itu.
Chin Tong tahu, pasti ketiga nona itu belum membocorkan identitas sebenarnya, maka sambil tersenyum, katanya, “Ong-kongcu, apakah kau pernah mendengar ibumu menyinggung tentang
aku?”

Mendapat pertanyaan ini, Cau-ji segera memperhatikan sekejap nyonya cantik yang penampilannya masih berusia tiga puluh tahunan, padahal usia aslinya sudah tujuh puluh tahun, kemudian jawabnya dengan hormat, “Sucou, Cau-ji pernah mendengar nama besarmu.”

“Eh, biniku, kenapa Ong-kongcu memanggilmu Sucou?” tanya Leng Bang keheranan.
Chin Tong segera tertawa lebar.
“Kau masih ingat bocah perempuan bernama Si Ciu-ing?”

Seakan baru sadar, Leng Bang segera tertawa terbahak-bahak, “Hahaha, tentu saja masih ingat, bocah perempuan itu cantik, pintar, bahkan pandai memahami maksud orang lain, tak aneh dia memiliki keturunan sehebat dan setampan ini.”

Chin Tong ikut mengawasi Cau-ji beberapa saat lamanya, tiba-tiba ujarnya lagi sambil tertawa,
“Bukan hanya tampan, kalau penglihatanku tidak rabun, kalian turun tangan bersama pun belum tentu mampu bertahan sepuluh jurus serangannya!”

Ketiga nona itu jadi terperanjat. Terlebih Leng Bang, dengan nada tak percaya tanyanya,
“Mungkinkah itu?”
“Kau ini memang selalu tak puas dengan orang lain,” sela Chin Tong sambil tertawa hambar.

Buru-buru Cau-ji berseru, “Sucou, jangan bandingkan cahaya kunang-kunang dengan sinar rembulan. Aku tak sanggup melawan mereka.”

“Cau-ji tak perlu sungkan,” ujar Chin Tong sambil tertawa, “belum pernah kudengar jagoan di dunia persilatan yang mampu membantai Rasul ular dan Raja beracun secara bersamaan.”

Baru saja Cau-ji ingin mengucapkan kata-kata merendah, mendadak terlihat seorang lelaki berjalan menghampiri Cu Bi-ih sambil melapor, “Nona, nona Siang mohon bertemu!”

Cu Bi-ih segera berpaling ke arah Cu Bi-hoa sambil katanya, “Adik kecil, persilakan nona Siang masuk!”
“Baik!”

Sepeninggal adiknya, Cu Bi-ih berkata lagi kepada Cau-ji sambil tertawa, “Kongcu, nona Siang adalah salah satu penanggung jawab toko permata terbesar dan termegah di seantero negeri, bukan saja berparas cantik bak bidadari, ilmu silat yang dimiliki pun sangat lihai!”

Mendengar itu Cau-ji jadi kegirangan, belum sempat dia mengutarakan kisah hubungannya dengan Siang Ci-ing, dari luar ruangan sudah terdengar suara Siang Ci-ing yang berseru merdu,
“Nona besar, kau jangan memalukan Siaumoay!” bersamaan dengan selesainya perkataan itu, tampak Siang Ci-ing dengan pakaian kuningnya telah melangkah masuk ke dalam ruangan.

“Ooh, rupanya ada tamu agung! Eeei! Ternyata kau adik Cau!”
Sambil berteriak, nona itu langsung menubruk ke dalam pelukan Cau-ji sambil menangis tersedu-sedu.
Kejadian ini kontan membuat seluruh hadirin tertegun dan berdiri terperangah.

Merah jengah wajah Cau-ji begitu melihat ulah gadis itu, buru-buru bisiknya, “Enci Ing, jangan begitu, malulah! Coba lihat, semua orang mengawasimu

Mendengar itu, Siang Ci-ing ikut berubah wajahnya karena malu, cepat dia tinggalkan Cau-ji dan menundukkan kepala.

Cau-ji manggut-manggut kepada semua orang, kemudian secara ringkas dia pun menceritakan kisah perkenalannya dengan Siang Ci-ing.
Kini semua orang baru tahu kejadian yang sebenarnya, mereka pun hanya tersenyum tanpa bicara.

Lebih jauh Cau-ji menceritakan pula kisahnya bertemu dengan tiga bersaudara Cu di kota Bujang, dimana dari permusuhan berubah jadi teman kepada Siang Ci-ing.
Kontan gadis itu berseru berulang kali, “Ooh, sungguh menakutkan, sungguh mengerikan!”
“Semua yang diatur Thian memang luar biasa,” akhirnya Cau-ji menutup pembicaraan sambil tertawa.
“Memang luar biasa,” Siang Ci-ing manggut-manggut, “coba kalau bukan kau telah membantu It-ci Taysu serta enci Si dan Enci Bun menembus jaringan nadi Jin-meh dan Tok-meh di tubuhnya, mungkin sejak semalam biara Siau-lim-si sudah terhapus namanya dari peredaran dunia persilatan.”

Tak terlukiskan rasa kaget semua orang sesudah mendengar berita ini, tanpa sadar serentak mereka berdiri.
“Enci Ing,” teriak Cau-ji pula dengan terperanjat, “jadi semalam Jit-seng-kau telah melancarkan serangan ke biara Siau-lim-si?”
“Benar! Su Kiau-kiau dengan memimpin dua ratusan anak buahnya telah melancarkan serangan
malam ke biara Siau-lim-si, sekalipun pihak Siau-lim telah melakukan persiapan, namun korban tewas dan luka parah sangat banyak, andaikata enci Si dan enci Bun tidak mati-matian menghadang serangan Su Kiau-kiau, mungkin situasinya akan semakin parah!”

Apakah pihak Siau-lim tidak menyiapkan barisan Lo-han-tin untuk menghalau serangan musuh?” tanya Cu Bi-ih cemas.
Siang Ci-ing menggeleng sedih, katanya, “Su Kiau-kiau memang banyak akal, ternyata dia berhasil menaklukan Hong-lui-tong yang berada di luar perbatasan, di bawah serangan bahan peledak yang luar biasa, mana mungkin jago-jago Siau-lim mampu menghadapinya?

“Di tengah kobaran api dan ledakan, anak murid Siau-lim mati-matian melakukan perlawanan dan akibatnya bukan saja jagoan dari Hong-lui-tong berhasil dimusnahkan, namun mereka sendiri pun ikut menjadi korban. Empat puluhan jago Hong-lui-tong akhirnya berhasil ditumpas habis, sementara pihak biara kehilangan dua ratusan orang anggotanya.”

Berubah hebat paras muka semua orang setelah mendengar penuturan ini.
Dengan air mata berlinang, kembali Siang Ci-ing melanjutkan, “Secara berturut-turut ketua biara Siau-lim, ketua Tat-mo-wan, ketua bagian hukum, ketua bagian pelatihan, satu per satu roboh terluka parah, malah jago-jago kalangan putih yang berada di seputar Lok-yang pun banyak yang terluka atau tewas.”

“Sute, kau belum pernah menyaksikan pertempuran sengit semacam ini, setiap orang bertarung seperti orang gila, bahkan It-ci Taysu pun ikut melakukan pembunuhan secara besar-besaran hingga jubahnya basah oleh darah.”

“Lantas dimana enci Bun dan enci Si sekarang? Bagaimana pula dengan engkoh Liong?” Tanya Cau-ji cemas.
“Enci Si dan enci Bun bertarung mati-matian melawan Su Kiau-kiau serta keempat nyonya cantik pengiringnya, walaupun kehilangan banyak tenaga, untung mereka tak sampai terluka, sedang kakakku menderita luka parah, hingga sekarang belum sadar dari pingsannya!”

“Enci Ing, kita segera berangkat ke sana,” seru Cau-ji lagi dengan perasaan cemas.
Siang Ci-ing manggut-manggut.
“Kedatanganku hari ini tak lain adalah bermaksud minta bantuan ketiga nona ini, untung Thian melindungi hingga bertemu juga denganmu, sekarang engkoh Liong pasti akan tertolong.”
“Nona Siang, harap tunggu sebentar,” seru Cu Bi-ih tiba-tiba, habis berkata dia mengangguk ke arah Chin Tong.

Tak selang beberapa saat kemudian tampak Chin Tong muncul dari dalam ruangan sambil membawa sebuah kotak kertas persegi panjang.
Kembali Cu Bi-ih berseru, “Nona Siang, bawalah kotak obat ini.”

Dengan penuh berterima kasih Siang Ci-ing menerima kotak obat itu, kemudian bersama Cau-ji pergi meninggalkan tempat itu.
Thian-te-sian-lu yang melihat ketiga nonanya mengantar sendiri kepergian kedua orang tamunya buru-buru balik ke dalam kamar dan saling berpandangan sambil tersenyum.

Terdengar Leng Bang berbisik dengan ilmu menyampaikan suara, “Adik Tong, kelihatannya ketiga tuan putri kita jatuh hati kepada Cau-ji.”
“Rasanya memang begitu,” sahut Chin Tong sambil tertawa, “tapi aturan kerajaan sangat ketat, tak mungkin Baginda mengijinkan mereka bertiga menikah dengan orang persilatan.”
“Hahaha, kau toh bisa menyuruh mereka bertiga minta tolong permaisuri, biarlah mereka kawin lari, dunia begini luas, tak mungkin pihak kerajaan bisa menemukan mereka secara gampang.” “Wah, wah … ternyata akalmu sangat busuk.”
“Hahaha, coba jika dulu aku tak mengajakmu kawin lari, bukankah bakal menyesal sepanjang masa?”

Membayangkan kembali bagaimana dahulu dia pun tidak mendapat persetujuan dari tuanya ketika hendak kawin dengan Leng Bang si Raja penggetar bukit, sehingga akhirnya mereka putuskan untuk kawin lari, timbul perasaan hangat di hatinya.

Sambil menjatuhkan diri ke dalam pelukan suaminya, ia berkata lirih, “Engkoh Bang, selama puluhan tahun ini kau selalu mengajak Siaumoay mengarungi bahtera hidup yang penuh kebahagiaan, Siaumoay benar-benar bersyukur atas keberanian dan kenekatan engkoh Bang di masa lalu.”

“Tapi ada satu hal yang selalu membuat Siaumoay merasa tak tenang, selama ini aku gagal memberi keturunan kepadamu, hal ini membuat kau jadi malu kepada leluhur keluarga Leng ….”

Leng Bang segera balas memeluk bininya dengan mesra, sahutnya lembut, “Adik Tong, buat apa kau singgung masalah itu lagi, kalau memang sudah menjadi kehendak Thian, dipaksa pun tak ada gunanya!”

Berkilat sepasang mata Chin Tong.
“Engkoh Bang,” bisiknya, “bagaimana kalau kita angkat dua bersaudara keluarga Suto menjadi cucu perempuan kita?”

Mula-mula Leng Bang agak tertegun, kemudian sahutnya sambil manggut-manggut, “Bagus sekali, hubungan kita dengan Suto Lote suami-istri boleh dibilang sangat akrab, apa salahnya kalau kita rawat mereka bagaikan merawat cucu perempuan sendiri.”

Saking girangnya Chin Tong segera memeluk Leng Bang erat-erat, bahkan tiba-tiba saja melayangkan ciuman mesranya ke bibir suaminya.

Tiba-tiba terdengar suara orang berdehem, dengan wajah merah padam buru-buru kedua orang tua itu melepaskan pelukannya.

Terlihat tiga nona keluarga Cu dengan pakaian serba putih sedang berdiri di balik pintu dengan wajah memerah.
Dengan hormat Leng Bang segera bertanya, “Nona, apakah kalian akan keluar?”
“Benar, kami akan pergi ke Liong-ing-hong,” sahut Cu Bi-ih sambil manggut-manggut.

Sementara itu Cau-ji yang mengikuti Siang Ci-ing meninggalkan gedung keluarga Cu segera melakukan perjalanan cepat dengan menunggang tandu, tak sampai sepeminuman teh kemudian mereka telah tiba di Liong-ing-hong.

Dalam keadaan begini Cau-ji tak berniat menikmati pemandangan di sekelilingnya, cepat ia mengikuti Siang Ci-ing menuju ke kamar tidur Siang Ci-liong.
Dijumpai pemuda itu sedang berbaring dalam keadaan tak sadar, cepat dia maju mendekat sambil memeriksa nadinya.

Tampak paras mukanya pucat-pias, napasnya lemah, jelas sudah menderita luka dalam yang cukup parah. Dalam cemasnya dia sudah siap naik ke ranjang untuk membantu mengobati luka pemuda itu.

Tiba-tiba terendus bau harum obat memenuhi seluruh ruangan, kemudian terdengar Siang Ci Ing menjerit girang, “Oh, Thian, pil Cay-seng-wan! Adik Cau, coba lihat, pil Cay-seng-wan yang
langka

Sambil berkata dia segera melompat ke hadapan anak muda itu.
Betul saja, di dalam sebuah kotak terlihat enam butir pil yang terbungkus lilin berwarna kuning, di atas lilin itu tertera tiga huruf berbunyi “Cay-seng-wan”.

Dengan perasaan girang segera tanyanya, “Enci Ing, pil ini punya khasiat menghidupkan kembali orang yang sekarat, konon jauh lebih hebat khasiatnya daripada Toan-hun-wan dari Siaulim.”
“Betul,” sahut Siang Ci-ing sambil mengambil sebutir, “nona Cu benar-benar berjiwa besar. Adik Cau, semua ini berkat dirimu.”

Sambil berkata dia segera membelah lilin pembungkus obat itu, bau harum semerbak makin menyelimuti ruangan.
“Aai, betul-betul obat mujarab, dari baunya sudah ketahuan kalau obat ini tak ternilai harganya.”

Kemudian sambil memotong pil itu jadi dua bagian, dia serahkan separoh bagian ke tangan Cau-ji sambil ujarnya lagi, “Adik Cau, tolong cekokkan pil ini ke mulut engkoh Liong.”

Kemudian sambil mencampur sisa separoh obat yang lain dengan air panas, katanya lagi, “Adik Cau, sisanya akan kuberikan untuk enci Si dan enci Bun!”

Sambil tersenyum Cau-ji manggut-manggut, dia pun membuka mulut Siang Ci-liong dan menjejalkan obat itu ke dalam mulutnya.

Begitu obat masuk ke mulut, segera mencair dan mengalir masuk ke dalam perut Siang Ciliong.
Cepat Cau-ji membangunkan badannya, lalu sambil bersila di belakang punggungnya dia salurkan hawa murninya.

Cay-seng-wan memang luar biasa khasiatnya, apalagi ditambah tenaga dalam Cau-ji yang mengalir tiada putusnya, tak sampai sepeminuman teh kemudian pemuda itu sudah tersadar kembali.

“Engkoh Liong, aku adalah adik Cau, lanjutkan pengobatan luka darahmu,” bisik Cau-ji cepat.
Selesai berkata, dia menarik kembali tangannya sambil melompat turun.

Siang Ci-liong tahu lukanya baru sembuh, sesudah mengangguk dia pun melanjutkan semedinya.
Baru melangkah keluar dari kamar Siang Ci-liong, dua gadis berpakaian ringkas telah memberi hormat sambil menyapa pelan, “Kongcu, baik-baikkah kau.”
“Kalian baik-baik bukan?” sahut Cau-ji sambil mengangguk, “boleh tahu nona Suto berdua berada di mana?”
“Mereka berada di loteng Beng-gwe-lau di halaman belakang!” sahut nona di sebelah kanan.

Badai melanda Siau-lim-si.

Author: 

Related Posts